Poem

Perban

Perban

ketika aku masih kecil
lututku sobek sepedaku bengkok
gara-gara aku menabrak tembok
dan terjatuh ke selokan besar
tanpa ada seorang pun
yang menolongku saat itu

setibanya di rumah ayah dan ibu
telah menungguku di depan pintu

“dari mana? jam segini baru pulang?”
ayah melotot

“kenapa sepedamu? kok malah dirusak?”
ibu ikut melotot

“lutut berdarah! badan bau comberan!”
suara ayah meninggi

“dasar anak bandel! bikin repot saja!”
suara ibu ikut meninggi

ayah… ibu…
sekarang si anak bandel sudah besar
dan sudah punya bulldozer sendiri
yang anti jatuh dan anti rusak

dengan bulldozerku ini
aku ingin membawa sepeda kesayanganku
yang masih tertimbun di gudang rumah kalian

sekalian aku juga ingin mencari
apakah di rumah kalian masih ada perban
untuk sekadar menutupi luka di lututku ini?!

Bayu Angora